Salah satu upaya panpel mencegah masuknya barang haram di stadion adalah dengan menggelar simulasi. Kegiatan itu diperuntukkan kepada petugas pengamanan yang biasa menjaga pertandingan Arema. Ketua panpel Arema Abdul Haris menyatakan, ini merupakan bentuk keseriusan mereka memerangi cerawat yang cukup merugikan.
Haris mengungkapkan, pintu masuk suporter sudah mendapat pengamanan cukup berlapis. Walau begitu, selalu saja ada cara dari suporter untuk memasukkannya ke dalam stadion.
“Keberadaan flare [cerawat] dalam aturan kompetisi dianggap mengganggu pertandingan. Acara ini kita gunakan agar match steward yang mengawal pertandingan Arema di tribun bisa mencegah penyalaan flare [cerawat] ini,” jelas Haris.
“Kita adakan simulasi, bagaimana langkah yang harus dilakukan apabila ada flare yang menyala. Bagaimana cara mematikannya, karena sebenarnya saat flare menyala, dalam satu detik saja sudah bisa dimatikan.”
“Semua petugas pengaman harus tahu bagaimanana cara menghentikan flare yang sudah terlanjur menyala. Karena dibanting-banting pun tidak bakal mati, harus ada teknik khusus. Nantinya para petugas juga diberi alat pemadam kebakaran.”
Dari empat pertandingan yang digelar oleh panpel, selalu saja ada flare yang menyala. Haris mengatakan, meskipun dinyalakan setelah pertandingan, tetap saja hal itu tidak boleh dilakukan.
“Selain menggalakkan pencegahan, panpel terus memberikan imbauan kepada Aremania untuk menghentikan perilaku ini. Sekarang sudah mulai berkurang, dan tinggal satu-dua saja,. Kita terus lakukan sosialisasi, karena sangat merugikan buat Arema,” tutur Haris.
“Nantinya, seperti biasa, oknum yang membawa flare akan kita tangkap, dan nanti sudah ada pihak berwenang seperti kepolisiaan yang menanganinya.” (
0 komentar:
Posting Komentar