Foto: pssi.or.id
Sepakbola.com, Jakarta - Akhirnya titik terang sepakbola Indonesia tiba juga setelah Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mengumumkan secara resmi pencabutan pembekuan federasi sepakbola Indonesia, PSSI, beberapa hari lalu. Tentunya ini jadi momentum untuk membentuk kembali sepakbola Indonesia.
Keputusan ini disambut dengan syukur oleh salah satu anggota Komite Eksekutif PSSI, Djamal Aziz. Ditemui awak sepakbola, di Kawasan Kebon Sirih, Jakarta, Djamal sudah tidak mau lagi membahas hal yang bersifat konflik lagi. Pihaknya siap terbuka dengan pemerintah untuk membangun sepakbola di Indonesia.
Sebelumnya Surat pencabutan SK Pembekuan PSSI yang ditanda tangani Menteri Pemuda dan Olah raga (Menpora) Imam Nahrawi, dibuat tanpa tembusan ke PSSI. Meski tanpa tembusan, surat tersebut langsung dilayangkan ke FIFA. Djamal tak mempersoalkan hal tersebut.
"Belum, belum mungkin lupa itu. Karena di situ tembusan nya juga kami (PSSI) enggak dapet. Itu juga nomor surat nya ada yang keliru, tapi yang di bagian bawah (nomor surat) sudah bener. Itu lah kelalaian manusia," kata Djamal kepada awak media.
“Yang berlalu biarlah berlalu. Mari menyongsong sepakbola yang baru. Ada slot di statuta FIFA, namanya Joint Operation. Pemerintah, ayo masuk. Selama tidak melanggar statuta, mari maju sama-sama,”tambahnya
Salah satu yang jadi fokusnya adalah membangun timnas Indonesia. Ia ingin PSSI bisa mendapatkan uluran tangan pemerintah untuk membentu timnas. Sebab, selama PSSI dibekukan Menpora Imam Nahrawi, induk sepak bola nasional tersebut tak memperoleh pemasukan sama sekali.
“Boleh dong kami terima APBN karena kami habis istirahat satu tahun (dibekukan). Sesuai peraturan, dana pembinaan boleh diberikan kepada induk cabang olahraga, Termasuk PSSI yang dana khasnya masih 0. Tentunya hal ini akan digunakan membentuk timnas untuk Piala AFF,” tegas pria kelahiran Surabaya, 9 Maret 1958 ini.
Pihaknya juga berharap ada keputusan positif di Kongres FIFA di Meksiko. Saat ini Wakil Ketua Umum PSSI Hinca Pandjaitan dan Sekjen PSSI Azwan Karim yang sedang berada di area Kongres FIFA sedang bernegosiasi agar sanksi Indonesia dicabut.
“Meski PSSI tidak mendapat surat tembusan pencabutan SK pembekuan, tapi Pak Hinca dan Azwan sedang berjuang di Kongres FIFA agar masalah Indonesia bisa diselesaikan, kemudian sanksi FIFA dicabut. Itu yang kita harapkan bersama,” harapnya.
Terakhir terkait desakan dari Kelompok 85 (K-85) yang menginginkan Kongres Luar Biasa (KLB) dengan agenda pemilihan ketua umum PSSI, pihaknya mempertanyakan niatan kelompok tersebut. Sebab sebulan sebelum mengajukan desakan KLB, lanjut Djamal, mereka juga membuat surat yang intinya menolak KLB.
"Jika mereka membaca statuta dengan teliti, maka sadar kalau tidak semudah ini menuntut KLB. Ingat, saya begini bukan berarti saya anti-KLB, tidak. KLB? Silahkan, asal sesuai dengan statuta,” tutupnya.
Keputusan ini disambut dengan syukur oleh salah satu anggota Komite Eksekutif PSSI, Djamal Aziz. Ditemui awak sepakbola, di Kawasan Kebon Sirih, Jakarta, Djamal sudah tidak mau lagi membahas hal yang bersifat konflik lagi. Pihaknya siap terbuka dengan pemerintah untuk membangun sepakbola di Indonesia.
Sebelumnya Surat pencabutan SK Pembekuan PSSI yang ditanda tangani Menteri Pemuda dan Olah raga (Menpora) Imam Nahrawi, dibuat tanpa tembusan ke PSSI. Meski tanpa tembusan, surat tersebut langsung dilayangkan ke FIFA. Djamal tak mempersoalkan hal tersebut.
"Belum, belum mungkin lupa itu. Karena di situ tembusan nya juga kami (PSSI) enggak dapet. Itu juga nomor surat nya ada yang keliru, tapi yang di bagian bawah (nomor surat) sudah bener. Itu lah kelalaian manusia," kata Djamal kepada awak media.
“Yang berlalu biarlah berlalu. Mari menyongsong sepakbola yang baru. Ada slot di statuta FIFA, namanya Joint Operation. Pemerintah, ayo masuk. Selama tidak melanggar statuta, mari maju sama-sama,”tambahnya
Salah satu yang jadi fokusnya adalah membangun timnas Indonesia. Ia ingin PSSI bisa mendapatkan uluran tangan pemerintah untuk membentu timnas. Sebab, selama PSSI dibekukan Menpora Imam Nahrawi, induk sepak bola nasional tersebut tak memperoleh pemasukan sama sekali.
“Boleh dong kami terima APBN karena kami habis istirahat satu tahun (dibekukan). Sesuai peraturan, dana pembinaan boleh diberikan kepada induk cabang olahraga, Termasuk PSSI yang dana khasnya masih 0. Tentunya hal ini akan digunakan membentuk timnas untuk Piala AFF,” tegas pria kelahiran Surabaya, 9 Maret 1958 ini.
Pihaknya juga berharap ada keputusan positif di Kongres FIFA di Meksiko. Saat ini Wakil Ketua Umum PSSI Hinca Pandjaitan dan Sekjen PSSI Azwan Karim yang sedang berada di area Kongres FIFA sedang bernegosiasi agar sanksi Indonesia dicabut.
“Meski PSSI tidak mendapat surat tembusan pencabutan SK pembekuan, tapi Pak Hinca dan Azwan sedang berjuang di Kongres FIFA agar masalah Indonesia bisa diselesaikan, kemudian sanksi FIFA dicabut. Itu yang kita harapkan bersama,” harapnya.
Terakhir terkait desakan dari Kelompok 85 (K-85) yang menginginkan Kongres Luar Biasa (KLB) dengan agenda pemilihan ketua umum PSSI, pihaknya mempertanyakan niatan kelompok tersebut. Sebab sebulan sebelum mengajukan desakan KLB, lanjut Djamal, mereka juga membuat surat yang intinya menolak KLB.
"Jika mereka membaca statuta dengan teliti, maka sadar kalau tidak semudah ini menuntut KLB. Ingat, saya begini bukan berarti saya anti-KLB, tidak. KLB? Silahkan, asal sesuai dengan statuta,” tutupnya.
0 komentar:
Posting Komentar